Masa
anak-anak adalah saat-saat langka bagi mereka Terlebih 6 tahun pertama.
Di saat inilah terjadinya perkembangan dan pertumbuhan otak anak yang
luar biasa pesatnya. Oleh karena itu Anda sebagai orang tua / pendidik
selayaknyalah menitikberatkan pendidikan anak di masa keemasan ini.
Bapak
dan ibu yang budiman,
Ketahuilah bahwa pembentukan emosi dan kemajuan
anak Anda sebenarnya telah dimulai semenjak Anda dan pasangan Anda
(suami / istri) berniat untuk memiliki keturunan. Bahkan saya pernah
mendengar pepatah /kata-kata bijak bahwa "membentuk jiwa anak adalah
dimulai satu generasi sebelum anak dilahirkan".
Adalah
benar bahwa pembentukan emosi anak ditentukan oleh orang tua dan
lingkungannya. Orang tua berperan besar dalam membentuk anak luar
dalam. Demikian pula dengan lingkungan, memegang andil yang cukup besar
dalam membuat pola sikap anak-anak kita.
Dalam hal ini, akan
lebih baik bila kita sebagai orang tua / pendidik mengenal
karakteristik anak-anak kita. Dengan mengetahui psikologi perkembangan
anak, tentu akan lebih mudah mengidentifikasi kebutuhan mendasar
anak-anak kita untuk berkembang lebih lanjut, mengoptimalkan kemampuan
dan kepintaran mereka.
Dengan mempelajari psikologi perkembangan
anak usia dini, Anda akan mengenal pola dan sikap yang anak-anak Anda
tunjukkan, sehingga Anda bisa memberikan bahasa kasih, support dan
pujian yang tepat bagi perkembangan jiwa anak-anak sejak dini.
Selain
kita membina diri dan keluarga kita, pun kita selayaknyalah memberikan
perhatian bagi pembentukan dan perbaikan kepribadian masyarakat kita.
Bila masyarakat memiliki kebiasaan dan karakter yang baik, tentu akan
berbekas kepada jiwa anak-anak kita. Bila lingkungan masyarakat buruk,
tentu saja akan dengan mudah mempengaruhi anak kita.
Karakter akan terbentuk sebagai hasil pemahaman 3 hubungan yang pasti dialami setiap manusia (trianglerelationship), yaitu hubungan dengan diri sendiri (intrapersonal), dengan lingkungan
(hubungan sosial dan alam sekitar), dan hubungan dengan Tuhan YME
(spiritual). Setiap hasil hubungan tersebut akan memberikan
pemaknaan/pemahaman yang pada akhirnya menjadi nilai
dan keyakinan anak. Cara anak memahami bentuk hubungan tersebut akan
menentukan cara anak memperlakukan dunianya. Pemahaman negatif akan
berimbas pada perlakuan yang negatif dan pemahaman yang positif akan
memperlakukan dunianya dengan positif. Untuk itu, Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak sejak usia dini, salah satunya dengan cara memberikan kepercayaan pada anak
untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, membantu anak
mengarahkan potensinya dengan begitu mereka lebih mampu untuk
bereksplorasi dengan sendirinya, tidak menekannya baik secara langsung
atau secara halus, dan seterusnya. Biasakan anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ingat pilihan terhadap lingkungan sangat menentukan pembentukan karakter
anak. Seperti kata pepatah bergaul dengan penjual minyak wangi akan
ikut wangi, bergaul dengan penjual ikan akan ikut amis. Seperti itulah, lingkungan baik dan sehat akan menumbuhkan karakter sehat dan baik, begitu pula sebaliknya. Dan yang tidak bisa diabaikan adalah membangun hubungan spiritual dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Hubungan spiritual dengan Tuhan YME terbangun melalui pelaksanaan dan
penghayatan ibadah ritual yang terimplementasi pada kehidupan sosial.
Jumat, 21 Juni 2013
Kata-kata bijak dalam mendidik anak
Jika anak hidup dengan kritikan,ia akan belajar untuk mengutuk.
Jika anak hidup dengan kekerasan, ia akan belajar untuk melawan.
Jika anak hidup dengan ejekan, ia akan belajar untuk menjadi pemalu.
Jika anak hidup dengan dipermalukan, ia akan belajar merasa bersalah. Jika anak hidup dengan toleransi, ia akan belajar bersabar.
Jika anak hidup dengan dorongan, ia akan belajar percaya diri.
Jika anak hidup dengan pujian, ia akan belajar untuk menghargai.
Jika anak hidup dengan tindakan yang jujur, ia akan belajar tentang keadilan.
Jika anak hidup dengan rasa aman, ia akan belajar untuk mempercayai.
Jika anak hidup dengan persetujuan, ia akan belajar untuk menghargai dirinya.
Jika anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan, ia akan belajar untuk menemukan cinta di muka bumi ini.
Jumat, 14 Juni 2013
Indonesia: Masa kecil anak ikut tentukan masa depan bangsa
Indonesia
terus berupaya meningkatkan program-program bagi anak usia dini,
sehingga anak bisa mengembangkan potensinya secara penuh.
PESAN UTAMA
Usia
antara 0-6 tahun merupakan masa keemasan dalam perkembangan anak,
dimana otak manusia berkembang paling cepat dibanding pada usia sekolah
maupun sesudahnya.
Indonesia terus melakukan upaya untuk
meningkatkan pendidikan anak usia dini, namun jumlah dan mutu pelayanan
yang ada masih terbatas.
Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan
Bank Dunia menjalankan program layanan komprehensif bagi anak usia dini
terutama di pedesaan.
Sekitar 20-an
anak usia 4-5 tahun bernyanyi dengan antusias di depan sebuah bangunan
kecil berwarna-warni. Keriangan ini tertangkap pula di wajah para
orangtua yang mengantar mereka. Demikian suasana di pendidikan anak usia
dini (PAUD) Mekar Melati, Sukabumi. Anak-anak PAUD Mekar Melati
beruntung karena telah mendapatkan layanan penting yang amenentukan masa
depan mereka kelak.
Lewat stimulasi yang tepat, seperti bermain dan bernyanyi, kemampuan
berpikir, motorik, dan sosialisasi anak menjadi lebih berkembang.
Menurut pengamatan Henhen, seorang fasilitator, guru-guru SD mulai
menyadari perbedaan yang dibawa oleh PAUD.
Anak-anak lulusan PAUD lebih mudah belajar, percaya diri dan mudah berinteraksi.
Henhen Fasilitator
PAUD sekarang juga mulai berkoordinasi dengan
Posyandu, agar anak dan orangtuanya dilayani oleh kader, petugas
kesehatan dan bidan. “Dengan adanya layanan PAUD yang terintegrasi
dengan posyandu, kasus gizi buruk telah menurun, “ ujar Ujam, Kepala
Dinas Kesehatan Sukabumi.
Di Indonesia, ragam layanan PAUD meliputi Tempat Penitipan Anak,
Kelompok Belajar, Pos PAUD yang terintegrasi dengan Posyandu, Bina
Keluarga Balita, Taman Pendidikan Quran, hingga Taman
Kanak-Kanak/Raudhatul Athfal dan dirancang sesuai dengan usia dan tahap
perkembangan anak.
Saat ini sebagian besar layanan PAUD masih berdiri sendiri-sendiri.
Misalnya, TK atau Kelompok Bermain belum terintegrasi dengan program BKB
dan Posyandu. Pada acara Dialog PAUD Nasional bulan Januari 2012 lalu,
pemerintah sepakat mengembangkan sebuah sistem layanan PAUD nasional
yang terpadu. Menurut pakar dan praktisi nasional PAUD, Professor Anna
Alisjahbana yang merintis Taman Posyandu sejak tahun 2000, “Konsep
Posyandu bertujuan untuk mengurangi kesenjangan perkembangan anak dalam
hal kesehatan dan psikososial. Ke depannya diharapkan pemenuhan
kebutuhan tumbuh kembang anak 0-6 tahun akan diperoleh di satu tempat,
atau di beberapa lokasi namun terintegrasi.” Dengan pola integratif ini,
Direktorat Pembinaan PAUD Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang
dibentuk sejak tahun 2001, menargetkan 75 persen anak usia dini akan
terlayani pada tahun 2015. Persoalan Akses, Kualitas dan Persepsi Masyarakat
Pemerintah terus mengupayakan layanan PAUD yang terjangkau dan
berkualitas terutama bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu. Saat ini,
dari 32,4 juta anak Indonesia usia 0-6 tahun, masih kurang dari
setengahnya terlayani. Sedangkan dari yang belum terlayani, sebagian
besar berasal dari kelompok usia di bawah 3 tahun dan tersebar di daerah
pedesaan. Tantangan pemerintah ke depan adalah bagaimana memastikan
kelompok ini pun terlayani. Blue Print (Rancangan Besar) Program PAUD hingga 2025 yang di
rilis oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2011, menyebutkan
rendahnya kualitas dan kompetensi tenaga pendidik PAUD. Lebih dari 60%
tenaga pendidik PAUD di Indonesia masih berijasah SMA atau dibawah D2.
Untuk mengatasi hal ini pemerintah secara bertahap merencanakan
peningkatan mutu pendidik PAUD melalui berbagai program beasiswa
pendidikan, pelatihan dan pemagangan – yang membutuhkan dana tidak
sedikit.
Selain itu, banyak yang belum memahami pentingnya PAUD. Sebagian
menganggap PAUD sebagai tempat bermain dan bernyanyi saja, sementara
orangtua biasanya ingin anaknya pintar dengan cara cepat, misalnya mampu
menghitung, membaca dan menulis sehingga lulus ujian masuk SD. Orangtua
baru mendaftarkan anaknya ke TK saat anak menjelang umur 5 tahun.
Padahal dalam rentang usia 3-6 tahun, bermain adalah cara belajar yang
paling efektif untuk menstimulasi perkembangan bahasa, motorik,
sosio-emosional, kognitif serta keterampilan komunikasi anak.
Program Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini (PPAUD)
Salah satu inisiatif pemerintah bagi perkembangan anak usia dini adalah Program Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini.
Melalui kerjasama dengan Bank Dunia dan Pemerintah Kerajaan Belanda,
program ini membantu memberikan layanan PAUD bagi masyarakat miskin
sejak tahun 2006. Ditargetkan pada tahun 2013, PPAUD mampu menjangkau
738.000 anak di 3.000 desa, di 50 kabupaten.
Program ini mengadopsi konsep pembangunan berbasis masyarakat agar
sepenuhnya menjadi milik masyarakat dan berkesinambungan. Sebagai
contoh, masyarakat memilih sendiri warganya untuk dilatih menjadi tenaga
pendidik. Saat ini, 12.000 tenaga pendidik telah menerima pelatihan dan
pembinaan untuk menjaga mutu layanan. Sebuah Standar Nasional PAUD juga
telah diterbitkan sebagai acuan bagi para penyedia dan pengelola dalam
meningkatkan mutu layanan PAUD mereka.
Program ini juga memberikan layanan pemeriksaan kesehatan, pemberian
makanan tambahan, vitamin, pembiasaan hidup bersih sehat, serta
pendidikan berbasis keluarga. Program selalu berupaya meningkatkan
pemahaman dan peran serta orangtua, masyarakat, dan pemerintah daerah
serta mengembangkan layanan bagi anak di bawah 3 tahun beserta
orangtuanya.
Sejak awal, program ini juga mensyaratkan komitmen dari Pemerintah
Daerah untuk menjaga keberlangsungan layanan setelah program berakhir.
Indahnya Kebersamaan Keluarga
Dunia yang semakin modern disertai dengan kebutuhan yang
semakin bervariasi banyak menuntut supaya orang tua bekerja dua-duanya.
Mommy atau suamipun harus mengikuti jadwal rutinitas pekerjaan.
Kebersamaan bersama keluarga terkadang terasa begitu singkat dan bahkan
sedikit terabaikan. Adanya kecanggihan teknologi seperti telepon genggam
banyak menolong untuk tetap terus mengadakan komunikasi dengan anggota
keluarga yang lain sekalipun terpisah oleh jarak yang jauh. Tapi apakah
itu cukup untuk menggantikan kehadiran Mommy dalam sebuah kebersamaan?
Pentingnya kebersamaan adalah kehadiran seseorang di tengah-tengah
keluarga. Satu jam saja waktu yang disediakan akan sangat berarti
dibanding waktu-waktu Mommy dan keluarga yang banyak tersita untuk
hal-hal yang lain. Jadi manfaatkan benar-benar waktu kebersamaan bareng
keluarga sebagai refreshing batin Mommy. Suasana tenang dan rileks saat
kumpul bersama keluarga akan memberikan efek positif pada pikiran Mommy,
sekaligus dapat meningkatkan kinerja Mommy dalam beraktifitas atau
bekerja. Satu hal lagi, kebersamaan yang berkualitas akan memotivasi
untuk lebih saling percaya, saling menghargai, dan saling terbuka dalam
berkomunikasi.
Saran praktis bentuk kegiatan kebersamaan keluarga.
1. Sediakan waktu bermain dan bercanda bersama
Kuncinya bukan luangkan waktu Moms, kalau meluangkan waktu disaat ada
urusan lain maka akan gampang tergoyahkan. Tetapi kalau menyediakan
waktu, berarti berkomitmen untuk menyediakan waktu bersama-sama bareng
keluarga. Nah, disaat seperti ini sebisa mungkin hindari gangguan dari
pekerjaan atau gangguan lainnya. Telepon dan internet yang gak terlalu
penting ditinggalin dulu, pergi bareng teman-teman ditunda dulu,
pokoknya khusus deh berikan waktu untuk menciptakan kebersamaan di
keluarga inti Mommy.
2. Nonton bareng
Kalau Mommy masih belum punya si kecil atau memang sedang kembali
berkencan berdua seru-seru saja untuk nonton bareng keluar. Pilih film
yang disukai oleh Mommy dan suami sehingga kedua-duanya bisa menikmati.
Jadwalin juga nonton bareng si kecil. Tentunya film yang sesuatu dengan
umur si kecil. Tergantung usia si kecil, kalau memang si kecil belum
bisa untuk berkonsentrasi panjang sampai film selesai tidak perlu
dipaksakan Moms. Selingi dengan canda, cemilan ringan bersama si kecil.
Nikmati waktu bersama-sama.
3. Rekreasi bareng
Rencanakan liburan seru dan asyik bareng keluarga. Kalau ada waktu untuk
liburan panjang ada baiknya pergi ke tempat rekreasi yang jauh tapi
menenangkan. Tentunya dilengkapi dengan sarana untuk si kecil bermain.
Diskusikan bareng-bareng supaya semua tahu kemana akan pergi dan semua
setuju. Liburan singkat seperti weekend juga bisa dimanfaatkan untuk
rekreasi bareng. Ke tempat-tempat yang mudah dijangkau dan jangan lupa
cenderungkan rekreasi alam untuk mengenalkan si kecil pada alam dan
dunia binatang atau tumbuhan sejak kecil.
Satu hal yang perlu dicermati, terkadang memang terjadi hal-hal kecil
yang membuat Mommy atau suami tidak sabaran dengan si kecil saat
liburan. Lebih baik berusaha mengendalikan emosi, alihkan ke hal-hal
yang lebih menarik namun tetap menunjukkan disiplin pada si kecil. Tapi
jangan sampai emosi berlebihan akhirnya menggagalkan rencana untuk
bersenang-senang bareng keluarga.
4. Menciptakan moment istimewa di hari-hari istimewa
Hari ulang tahun anggota keluarga, hari anniversay, hari ibu, atau
hari-hari yang lain. Kebersamaan yang istimewa tidak melulu berbicara
tentang hadiah-hadiah yang istimewa. Cari tahu kesukaan si kecil atau
suami, berikan kejutan dan tunjukkan kasih sayang yang tulus. Bukan
hanya karena sebuah kebiasaan untuk merayakan hari-hari istimewa tetapi
suatu ungkapan kasih yang tulus untuk menunjukkan kasih sayang kepada
seluruh anggota keluarga.
5. Beribadah bersama
Ini hal yang terpenting Moms. Apalagi di moment bulan Ramadhan seperti
saat ini. Beribadah bersama bareng-bareng sekeluarga akan menciptakan
hubungan batin yang baik. Menciptakan ketenangan dan kedamaian,
sekaligus melatih dan mengenalkan si kecil tentang pendidikan agama
sejak kecil. Sholat bersama-sama di rumah, berdoa atau bergereja
sekeluarga, pergi ke pure berbarengan, atau ke acara-acara keagamaan
yang lain bersama-sama sekeluarga akan menjadi moment kebersamaan yang
indah dan tak tergantikan.
Sebuah pelukan hangat tidak bisa diberikan tanpa sebuah kehadiran.
Sebuah senyuman bisa ditunjukkan lewat sebuah foto, namun pancaran mata
bersinar yang penuh kasih sayang tidak akan bisa tersampaikan. Sebuah
video dapat menunjukkan kebahagiaan, tetapi tangan tidak dapat
menjangkaunya dan merengkuhnya dalam pangkuan Mommy. Sebuah kehadiran
disertai rasa sayang yang tulus membuat sebuah kebersamaan sangatlah
berarti.
Pendidikan anak usia dinii, mengasah keunikan anak
PAUDNGESTI : Tingkat kesadaran masyarakat untuk memberikan
pendidikan pada anak usia dini sudah semakin membaik. Hal itu sejalan
dengan gerakan pendidikan anak usia dini (PAUD)
yang digalakkan pemerintah. Hanya kesadaran tersebut belum diimbangi
dengan ketersediaan lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) yang
memenuhi syarat. Ketua Himpunan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Anak
Usia Dini (Himpaudi) Jabar, Anna Anggraeni mengatakan, hal itu terjadi
karena adanya persepsi dan cara pandang yang salah dari masyarakat.
Mencampuradukkan pendidikan dengan nilai bisnis. Menganggap PAUD menjadi
lahan peluang untuk mencari uang. Yang paling fatal, bila latar
belakang pendidik tidak memahami kurikulum tumbuh kembang anak, keunikan
anak dan perkembangan inovasi model pembelajaran. Padahal, PAUD
merupakan fasilitator yang menjembatani keunikan setiap anak. Anak dalam
satu kesempatan bisa mendapat multikecerdasan. Menyadari
segala keterbatasan tersebut, Himpaudi selaku organisasi profesi yang
beranggotan pendidik dan tenaga kependidikan PAUD sudah membentuk
pengurus mulai dari tingkat wilayah, kab./kota, dan ranting beberapa
kecamatan yang satu sama lain saling berhubungan secara sinergis. Hal
itu bertujuan untuk peningkatan mutu pendidik dan saling melengkapi.
Sesuai visi Himpaudi tahun 2015 menjadikan pendidik yang profesional,
tangguh, berakhlak mulia, dan disyaratkan berlatar belakang S-1.
Sementara untuk percepatan sosialisasi dan peningkatan mutu pendidik,
Himpaudi mengadakan pelatihan “Beyond Center and Circle Times” (BCCT).
“Respons di daerah sangat mengharukan. Mereka sangat haus ilmu dan
pembelajaran. Sungguh, percepatan pelayanan yang kita berikan harus kita
jaga bersama untuk kualitas pendidik tutor di lapangan,” ujar Anna.
Pelatihan swadaya dan yang terakhir kami lakukan tanggal 5-6 Juli 2008
di PAUD terbuka Bina Insani. Pada kesempatan itu, para pengurus
melakukan temu pimpinan daerah dengan inovasi kemasan kegiatan. “Bukan
hanya sharing, caracter building, tetapi juga pemberian materi pendidik
PAUD dari Jakarta,” ujarnya. Peserta juga memeroleh materi-materi
tentang penanaman budi luhur oleh pembina Bina Insani. “Semua itu
diupayakan untuk mengupas sentuhan hati kiprah dan tugas profesi
pendidik PAUD,” imbuhnya. Selain itu, Himpaudi berupaya keras melalui
semua komponen untuk menjaga kesinambungan PAUD nonformal dan PAUD
informal, antara lain para tutor, keluarga, ibu dan bapak pengasuh,
serta anggota keluarga lainnya termasuk nenek, kakek, agar kesinambungan
pendidikan dengan kemasan iman dan takwa tidak hanya dilakukan di
sekolah, tetapi juga di rumah dan di lingkungan anak tersebut berada.
“Memang masih perlu adanya sosialisasi dan kesadaran semua pihak.
Apalagi anak peniru ulung dan sangat membutuhkan rasa aman dan nyaman
serta keteladanan dari sekitarnya,” ujar Anna. Menjawab tentang dampak
negatif bila lembaga PAUD tidak sesuai dengan yang disyaratkan, Anna
mengatakan, akan terjadi dampak permanen, mengingat usia anak PAUD
memiliki kecerdasan optimal yang dapat menyerap apa pun yang diberikan
kepadanya. Oleh karena itu, semua metode yang terangkum dalam BCCT
menjadi semacam “obat generik”. Panduan kegiatan PAUD ini disesuaikan
dengan tumbuh kembang dan dikemas dalam suasana bermain sambil belajar.
Tidak lagi dengan sistem klasikal. Pendekatan lingkaran dan sentra ini
didesain untuk memenuhi identitas anak bermain, mampu melahirkan minat
yang pada akhirnya menumbuhkan minat pada keaksaraan. Jadi bukan dengan
cara calistung. “Jadi, tuntutan orang tua yang merasa bangga dan
menuntut anak usia dini mahir calistung bukan lagi cara pandang tepat.
Selain belum waktunya, juga melanggar hak anak bermain. Efeknya, akan
menimbulkan kejenuhan dini pada anak. Biasanya terlihat pada usia anak
kelas 4 SD dan seterusnya,” tutur Anna. Perihal syarat sebuah lembaga
PAUD yang ideal, Anna menyebutkan niat sebagai landasan awal. Sementara
pengelolanya bisa PAUD nonformal, TPA, kelompok bermain, SPS yang
didirikan oleh organisasi kemasyarakatan dan berbadan hukum. Dapat pula
oleh orsos dan organisasi wanita yang memiliki susunan pengurus,
pendidik yang berlatar belakang yang disyaratkan, rencana tahunan,
semester, bulanan, dan harian. sumber : (Eriyanti/”PR”)***
PERKEMBANGAN ASPEK FISIK, MOTORIK, KOGNITIF, BAHASA, MORAL, SOSIAL, EMOSI DAN AGAMA DARI BAYI HINGGA KANAK-KANAK A. Perkembangan Aspek Fisik
Daur Pertumbuhan Fisik
Petumbuhan
fisik tidak dapat dikatakan mengikuti pola ketetapan yang tertentu.
Pertumbuhan tesebut terjadi secara bertahap atau dengan kata lain
seperti naik turunnya gelombang adakalanya cepat adakalanya lambat.
Daur Pertumbuhan Utama
Studi
tentang pertumbuhan fisik telah menunjukkan bahwa pertumbuhan anak
dapat di bagi menjadi 4 periode utama, dua periode ditandai dengan
pertumbuhan yang cepat dan dua periode lainnya dicirikan oleh
pertumbuhan yang lambat. Selama periode pralahir dan 6 bulan setelah
lahir, pertumbuhan tubuhnya sagat cepat. Pada akhir tahun pertama
kehidupan pasca lahirnya, pertumbuhan memperlihatkan tempo yang sedikit
lambat dan kemudian menjadi stabil sampai si anak memasuki tahap remaja,
atau tahap kematangan kehidupan seksualnya.
Keanekaragaman Daur Pertumbuhan
Ukuran
dan bangun tubuh yang diwariskan secara genetik, juga mempengaruhi laju
pertumbuhan tersebut. Anak-anak yang mempunyai bangun tubuh kekar
biasanya akan tumbuh dengan cepat dibandingkan dengan mereka yang bangun
tubuhnya kecil atau sedang. Anak-anak dengan bangun tubuh besar ini,
biasanya akan memasuki tahap remaja lebih cepat dari pada teman
sebayanya yang mempunyai bangun tubuh lebih kecil.
Besar Kecilnya Ukuran Tubuh
Besar
kecilya tubuh seseorang dipengaruhi oleh factor keturunan dan juga
factor lingkungan. Faktor keturunan menentukan cara kerja hormon yang
mengatur pertumbuhan fisik yang dikeluarkan oleh lobus anterior dari kelenjar pituitary, suatu kelejar kecil yang terletak didasar sebelah bawah otak.
Tinggi Tubuh
Anak-anak
dengan usia sebaya dapat memparlihatkan tinggi tubuh yang sangat
berbeda, tetapi pola pertumbuhan tinggi tubuh mereka tetap mengikuti
aturan yang sama. Bila dihitung secara rata-rata, pola ini dapat
menggambarkan pertumbuhan anak pada usia tertentu. hal ini dipenganruhi
oleh faktor dari dalam (gen) dan faktor dari luar seperti asupan gizi
yang memadai untuk pertumbuhan tinggi badan
Berat Tubuh
Rata-rata
berat bayi ketika dilahirkan adalah 3 sampai 4 kg, tatapi ada juga
beberapa bayi yany beratnya 1½ sampai 2 kg.Pada waktu berusia 2 dan 3
tahun berat tubuh anak akan bertabah 1½ sampai 2 ½ kg setiap tahunnya.
Setelah anak berusia 3 tahun, nampak berat tubuh tidak lagi bertambah
dengan cepat, bahkan cenderung pelahan sampai saatnya nanti ia memasuki
usia remaja. Pada usia 5 tahun, seorang anak yang normal akan memiliki
berat tubuh yang berkisar antara 40 dan 45 kg.
Proporsi Tubuh
Proporsi
tubuh atau perbandingan besar kecilnya anggota badan secara keseluruhan
pada bayi jelas berbeda dari proporsi orang dewasa. Pertumbuhan tinggi
dan berat badan menunjukkan bahwa pertumbuhan tinggi badan anak lebih
cepat dari pada pertumbuhan berat badannya. Kecuali pada tahun pertama
kehidupan sewaktu ia tumbuh dengan cepat
Tulang
Perkembangan
tulang yang terjadi pada setiap manusia biasaya mencakup pertumbuhan
tulang, perubahan jumlah tulang, dan perubaha komposisi tulang.
Perkembangan tulang ini sejalan dengan kecenderungan pertumbuhan umumnya
yaitu pada tahu pertama pertumbuhan cepat sekali, kemudia lambat da
pada saat remaja menjadi cepat kembali.
Pertumbuhan tulang terjadi karea memang ada pemajangan pada ujung tulang. Epiphisis, juga disebut tulang rawa memisahkan baying tulang atau yang disebut diaphsis dari tulang lainya.
Otot dan Lemak
Pada
saat seseorang dilahirkan, dia sudah mempunyai serabut otot, tetapi
masih belum berkembang. Setelah kelahiranya, serabut ini akan berubah
ukuran, bentuk dan komposisi. Panjang, lebar, dan ketebalan otot ini
akan mengalami proses pertumbuhan. Memasuki usia dewasa, otot ini telah
berkembang sebanyak lima kali dari saat dilahirkan.
Dalam
perkembangan pembentukan sel lemak ada tiga periode kritis. Periode
pertama selama tiga bulan terakhir kehidupan pra lahir, periode kedua
selama dua sampai tiga tahun kehidupan pasca lahir dan periode ke tiga
atara usia sebelas sampai tiga belas tahun.
Gigi
Biasanya
gigi susu sudah akan memotong graham bayi ketika ia berusia enam sampai
delapan bulan, tetapi kapan tepatnya gigi itu tumbuh keluar tergantung
pada kesehatan, keturuan, gizi, jenis kelamin anak, dan factor lainnya.
Rata-rata anak usia sembilan bulan sudah memilki tiga gigi sedangkan
pada usia dua sampai dua setengah tubuh mereka akan memiliki dua puluh
gigi susu yang telah tumbuh.
Setelah gigi susu tumbuh sempurna,
dalam gusi anak nantinya calon gigi tetap mlai diberi kapur pengguat.
Urutan gigi tetap yag diberi kapur penguat ini sama dengan proses
terjadinya pemunculan gigi susu. Rata-rata anak berusia enam tahun akan
mempunyai satu atau dua gigi tetap, pada usia sepuluh tahun mempunyai
empat belas sampai enam belas gigi susu, da pada usia 13 tahun telah
memiliki 27 atau 28 gigi tetap. Empat gigi tetap terakir, yang serig
disebut sebagai gigi kebijakan akan tumbuh pada usia 17 dan 25 tahun.
B. Perkembangan Aspek Bahasa (berbicara)
Perkembangan bahasa di tingkat pemula ( bayi) dapat dianggap semacam persiapan berbicara.
Pada bulan-bulan pertama, bayi hanya pandai menangis. Dalam hal ini
tangisan bayi dianggap sebagai pernyataan rasa tidak senang. Kemudian ia menangis dengan cara yang berbeda-beda menurut maksud yang hendak dinyatakannya.
Selanjutnya ia mengeluarkan bunyi ( suara-suara ) yang banyak
ragamnya. tetapi bunyi-bunyi itu belum mempunyai arti , hanya untuk
melatih pernapasan saja. Menjelang usia pertengahan dia tahu
pertama, ia meniru suara-suara yang didengarkannya, kemudian mengulangi
suara tersebut, tetapi bukan karna dia sudah mengerti apa yang dikatakan
kepadanya.
Ada dua alasan mengapa bayi belum pandai berbicara:
pertama, alat-alat bicaranya belum sempurna. Kedua, untuk dapat
berbicara, ia memerlukan kemampuan berpikir yang belum dimiliki oleh
anak bayi. Kemampuan berbicara dapat dikembangkan melalui belajar dan
berkomunikasi dengan orang lain secara timbal balik.
Ditingkat
pemula ( bayi ) tidak ada perbedaan perkembangan bahasa antara anak yang
tuli dengan anak yang biasa. Anak tuli juga menyatakan perasaan tak
senang dengan cara menangis. sedangkan rasa senangnya dinyatakan dengan
berbagai macam suara raban, tetapi tingkat perkembangan bahasa yang
selanjutnya tidak dialami olehnya. Ia tidak mampu mengulangi suara-suara
rabannya dan suara orang lain. Jika ia nanti sudah besar, ia akan
menjadi bisu.
Pada mulanya motif anak mempelajari bahasa adalah agar dapat memenuhi:
keinginan untuk memperoleh informasi tentang lingkungannya, diri
sendiri, dan kawan-kawannya ini terlihat pada anak usia 2 setengah – 3
tahun. Memberi perintah dan menyatakan kemauannya. Pergaulan social dengan orang lain. Menyatakan pendapat dan ide-idenya.
Perkembangan
bahasa seorang anak menurut Clara dan William Stern, ilmuan bangsa
Jerman, dibagi dalam empat masa, yaitu: masa kalimat satu kata, masa
memberi nama, masa kalimat tunggal dan masa kalimat majemuk.
Kalimat satu kata: satu tahun s.d satu tahun enam bulan
Dalam
masa pertama ini seorang anak mulai mengeluarkan suara-suara raban
yakni permainan dengan tenggorokan, mulut dan bibir supaya selaput suara
menjadi lebih lembut. Selain itu di masa ini seorang anak sudah dapat
menirukan suara-suara walaupun tidak begitu sama persis dengan bunyi
aslinya. Di masa ini juga mulai terbentuknya satu kata. Anak sudah mulai
bisa mengucapkan kata seperti “ibu” dan lainnya.
Masa memberi satu nama: satu setengah tahun s.d dua tahun
Dalam
masa kedua ini terjadi masa apa itu, masa dimana mulai timbul suatu
dorongan dalam diri seorang anak untuk mengetahui banyak hal. Inilah
yang menyebabkan anak akan sering bertanya apa ini? apa itu? siapa ini?
dan lainnya. Dan di masa ini kemampuan anak merangkai kata mulai
meningkat. Dulu yang hanya bisa satu kata, bertambah menjadi dua kata,
tiga kata hingga lebih sempurna.
Masa kalimat tunggal: dua tahun s.d setengah tahun.
Dalam
masa ketiga ini terdapat usaha anak untuk dapat berbahasa dengan lebih
baik dan sempurna. Anak mulai bisa menggunakan kalimat tunggal serta
menggunakan awalan dan akhiran pada kata. Namun tak jarang anak membuat
kata-kata baru yang lucu didengar dengan menggunakan caranya sendiri.
Masa kalimat majemuk : dua tahun enam bulan dan seterusnya.
Di
tahap ini seorang anak sudah dapat mengucapkan kalimat yang lebih
panjang dan sempurna,baik berupa kalimat majemuk dan berupa pertanyaan,
sehingga susunan bahasanya terdengar lebih sempurna.
C. Perkembangan Aspek Moral
Untuk mempermudah dalam membahas perkembangan moral, prlu untuk dimengerti arti istilah tersebut.
Perilaku
moral berarti perilaku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial.
“Moral”berasal dari kata latin yang berarti tatacara, kebiasaan dan
adat. Perilaku moral dikendalikan oleh konsep-konsep moral- peraturan
perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya dan yang
menentukan popla perilaku yang diharapkan dari seluruh anggota
kelompok.
Perilaku tak bermoral berarti perilaku yang tidak
sesuai dengan harapan sosial. perilaku demikian tidak disebabkan oleh
ketidak acuhan akan harapan sosial, melainkan ketidak setujuan dengan
standart sosial atau kurang adanya perasaan wajib menyesuaikan diri.
Perilaku
amoral berarti perilaku yang lebih disebabkan ketidak acuhan terhadap
harapan kelompok sosial dari pada pelanggaran sengaja terhadap standart
kelompok. Beberapa diantara perilaku anak kecil lebih bersifat amoral
dari pad takbermoral.
Pada saat lahir, tidak ada anak yang
memiliki hati nurani atau skala nilai. Akibatnya, tiap bayi yang baru
lahir dapat dianggap amoral. Tidak seorang anakpun dapat diharapkan
mengembangkan kode moral sendiri. Maka, tiap anak harus diajarkan
standart kelompok tentang yang bernar dan yang salah.
Dalam mempelajari sikap moral, terdapat empat pokok utama:
1)
Mempelajari apa yang diharapkan kelompok sosial dari anggotanya
sebagaimana dicantumkan dalam hukum, kebiasaan, dan peraturan.
2) Mengembangkan hati nurani.
3) Belajar mengalami perasaan bersalah dan rasa malu bila perilaku individu tidak sesuai dengan harapan kelompok.
4) Mempunyai kesempatan untuk interaksi sosial untuk belajar apa saja yang diharapkan anggota kelompok.
Pola Perkembangan Moral
Menurut
Peaget, perkembangan moral terjadi dalam dua tahap. Tahap pertama
disebut tahap realisme moral ( moralitas oleh pembatasan”. Tahap kedua
disebut moralitas otonomi ( moralitas oleh kerja sama atau hubungan
timbal balik)
Dalam tahap yang pertama ini seorang anak menilai
tindakan sebagai benar atau salah atas dasar konsekuensinya dan bukan
berdasarkan motifasi dibelakangnya. Moral anak otomatis mengikuti
peraturan tanpa berfikir atau menilai, dan cendrung menganggap orang
dewasa yang berkuasa sebagai maha kuasa. Yang paling penting menurut
Piaget bahwa anak menilai suatu perbuatan benar atu salah berdasarkan
hukuman bukan pada nilai moralnya.
Di tahap kedua perkembangan
kognitif anak telah terbentuk sehingga dia dapat mempertimbangkan semua
cara yang mungkin untuk memecahkan masalah tertentu. Anak mulai dapat
melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan dapat mempertimbangkan
berbagai faktor untuk memecahkan masalah.
D. PERKEMBANGAN AGAMA
1). Perkembangan Jiwa Beragama
Dalam
rentang kehidupan terdapat beberapa tahap perkembangan. Menurut
Kohnstamm, tahap perkembangan kehidupan manusia dibagi menjadi lima
periode, yaitu:
1. Umur 0 – 3 tahun, periode vital atau menyusuli.
2. Umur 3 – 6 tahun, periode estetis atau masa mencoba dan masa bermain.
3. Umur 6 – 12 tahun, periode intelektual (masa sekolah)
4. Umur 12 – 21 tahun, periode social atau masa pemuda.
5. Umur 21 tahun keatas, periode dewasa atau masa kematangan fisik dan psikis seseorang.
Elizabeth B. Hurlock merumuskan tahap perkembangan manusia secara lebih lengkap sebagai berikut:
1. Masa Pranatal, saat terjadinya konsepsi sampai lahir.
2. Masa Neonatus, saat kelahiran sampai akhir minggu kedua.
3. Masa Bayi, akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua.
4. Masa Kanak- Kanak awal, umur 2 – 6 tahun.
5. Masa Kanak- Kanak akhir, umur 6 – 10 atau 11 tahun.
6. Masa Pubertas (pra adolesence), umur 11 – 13 tahun
7. Masa Remaja Awal, umur 13 – 17 tahun. Masa remaja akhir 17 – 21 tahun.
8. Masa Dewasa Awal, umur 21 – 40 tahun.
9. Masa Setengah Baya, umur 40 – 60 tahun.
10. Masa Tua, umur 60 tahun keatas. 2. Agama Pada Masa Anak- Anak
Sebagaimana
dijelaskan diatas, yang dimaksud dengan masa anak- anak adalah sebelum
berumur 12 tahun. Jika mengikuti periodesasi yang dirumuskan Elizabeth
B. Hurlock, dalam masa ini terdiri dari tiga tahapan:
1. 0 – 2 tahun (masa vital)
2. 2 – 6 tahun (masa kanak- kanak)
3. 6 – 12 tahun (masa sekolah)
Anak
mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata- kata orang yang
ada dalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima secara acuh. Tuhan
bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak
dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. Tidak adanya perhatian
terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai
pengalaman yang akan membawanya kesana, baik pengalaman yang
menyenangkan maupun yang menyusahkan. Namun, setelah ia menyaksikan
reaksi orang- orang disekelilingnya yang disertai oleh emosi atau
perasaan tertentu yang makin lama makin meluas, maka mulailah
perhatiannya terhadap kata "tuhan" itu tumbuh.
Perasaan si anak
terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks. Ia merupakan campuran
dari bermacam- macam emosi dan dorongan yang saling bertentangan.
Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak
lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik, akan tetapi meningkat
lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan
butuh akan kasih sayangnya, bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur
bangga, butuh, takut dan cinta padanya sekaligus.
Menurut Zakiah
Daradjat, sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap tuhan pada
dasarnya negative. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan
kemuliaan tuhan. Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan
emosinya. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan, tempat dan
bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya, tapi didorong oleh
perasaan takut dan ingin rasa aman, kecuali jika orang tua anak mendidik
anak supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Namun pada pada
masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan berganti
positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya
dan merasa aman.
3. Tahap Perkembangan Beragama Pada Anak
Sejalan dengan kecerdasannya, perkembangan jiwa beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian:
a) The Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng)
Pada
tahap ini anak yang berumur 3 – 6 tahun, konsep mengenai Tuhan banyak
dipengaruhi oleh fantasi dan emosi, sehingga dalam menanggapi agama anak
masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongeng- dongeng
yang kurang masuk akal. Cerita akan Nabi akan dikhayalkan seperti yang
ada dalam dongeng- dongeng.
Pada usia ini, perhatian anak lebih
tertuju pada para pemuka agama dari pada isi ajarannya dan cerita akan
lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai
dengan jiwa kekanak- kanakannya. Dengan caranya sendiri anak
mengungkapkan pandangan teologisnya, pernyataan dan ungkapannya tentang
Tuhan lebih bernada individual, emosional dan spontan tapi penuh arti
teologis.
b) The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan)
Pada
tingkat ini pemikiran anak tentang Tuhan sebagai bapak beralih pada
Tuhan sebagai pencipta. Hubungan dengan Tuhan yang pada awalnya terbatas
pada emosi berubah pada hubungan dengan menggunakan pikiran atau
logika.
Pada tahap ini teradapat satu hal yang perlu digaris
bawahi bahwa anak pada usia 7 tahun dipandang sebagai permulaan
pertumbuhan logis, sehingga wajarlah bila anak harus diberi pelajaran
dan dibiasakan melakukan shalat pada usia dini dan dipukul bila
melanggarnya.
c) The Individual Stage (Tingkat Individu)
Pada
tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi, sejalan
dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang diindividualistik
ini terbagi menjadi tiga golongan:
Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi. Konsep ketuhanan yang lebih murni, dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal (perorangan).
Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik, yaitu agama telah menjadi
etos humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama.
Berkaitan dengan masalah ini, Imam Bawani membagi fase perkembangan agama pada masa anak menjadi empat bagian, yaitu:
a. Fase dalam kandungan
Untuk
memahami perkembangan agama pada masa ini sangatlah sulit, apalagi yang
berhubungan dengan psikis ruhani. Meski demikian perlu dicatat bahwa
perkembangan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada bayi, tepatnya
ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya,
b. Fase bayi
Pada
fase kedua ini juga belum banyak diketahui perkembangan agama pada
seorang anak. Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan
dalam hadis, seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran
anak.
c. Fase kanak- kanak
Masa ketiga tersebut merupakan
saat yang tepat untuk menanamkan nilai keagamaan. Pada fase ini anak
sudah mulai bergaul dengan dunia luar. Banyak hal yang ia saksikan
ketika berhubungan dengan orang-orang orang disekelilingnya. Dalam
pergaulan inilah ia mengenal Tuhan melalui ucapan- ucapan orang
disekelilingnya. Ia melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa
kagumnya pada Tuhan. Anak pada usia kanak- kanak belum mempunyai
pemahaman dalam melaksanakan ajaran Islam, akan tetapi disinilah peran
orang tua dalam memperkenalkan dan membiasakan anak dalam melakukan
tindakan- tindakan agama sekalipun sifatnya hanya meniru.
d. Masa anak sekolah
Seiring
dengan perkembangan aspek- aspek jiwa lainnya, perkembangan agama juga
menunjukkan perkembangan yang semakin realistis. Hal ini berkaitan
dengan perkembangan intelektualitasnya yang semakin berkembang.
4. Sifat agama pada anak
Sifat keagamaan pada anak dapat dibagi menjadi enam bagian:
a. Unreflective (kurang mendalam/ tanpa kritik)
Kebenaran
yang mereka terima tidak begitu mendalam, cukup sekedarnya saja. Dan
mereka merasa puas dengan keterangan yang kadang- kadang kurang masuk
akal. Menurut penelitian, pikiran kritis baru muncul pada anak berusia
12 tahun, sejalan dengan perkembangan moral.
b. Egosentris
Sifat
egosentris ini berdasarkan hasil ppenelitian Piaget tentang bahasa pada
anak berusia 3 – 7 tahun. Dalam hal ini, berbicara bagi anak-anak tidak
mempunyai arti seperti orang dewasa.
Pada usia 7 – 9 tahun, doa
secara khusus dihubungkan dengan kegiatan atau gerak- gerik tertentu,
tetapi amat konkret dan pribadi. Pada usia 9 – 12 tahun ide tentang doa
sebagai komunikasi antara anak dengan ilahi mulai tampak. Setelah itu
barulah isi doa beralih dari keinginan egosentris menuju masalah yang
tertuju pada orang lain yang bersifat etis.
c. Anthromorphis
Konsep
anak mengenai ketuhanan pada umumnya berasal dari pengalamannya. Dikala
ia berhubungan dengan orang lain, pertanyaan anak mengenai (bagaimana)
dan (mengapa) biasanya mencerminkan usaha mereka untuk menghubungkan
penjelasan religius yang abstrak dengan dunia pengalaman mereka yang
bersifat subjektif dan konkret.
d. Verbalis dan Ritualis
Kehidupan
agama pada anak sebagian besar tumbuh dari sebab ucapan (verbal).
Mereka menghafal secara verbal kalimat- kalimat keagamaan dan
mengerjakan amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman mereka
menurut tuntunan yang diajarkan pada mereka. Shalat dan doa yang
menarik bagi mereka adalah yang mengandung gerak dan biasa dilakukan
(tidak asing baginya).
e. Imitatif
Tindak keagamaan yang
dilakukan oleh anak pada dasarnya diperoleh dengan meniru. Dalam hal ini
orang tua memegang peranan penting.
Pendidikan sikap religius anak pada dasarnya tidak berbentuk pengajaran, akan tetapi berupa teladan
f. Rasa heran
Rasa
heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan pada anak. Berbeda
dengan rasa heran pada orang dewasa, rasa heran pada anak belum kritis
dan kreatif. Mereka hanya kagum pada keindahan lahiriah saja. Untuk itu
perlu diberi pengertian dan penjelasan pada mereka sesuai dengan tingkat
perkembangan pemikirannya. Dalam hal ini orang tua dan guru agama
mempunyai peranan yang sangat penting.
E. PERKEMBANGAN SOSIAL
Menurut
keyakinan tradisional sebagian manusia dilajirkan dengan sifat social
dansebagian tidak. Orang yang lebih banyak merenungi diri sendiri
daripada bersama-sama dengan orang lain, atau mereka yang bersifat
social pikirannya lebih banyak tertuju pada hal-hal diluar dirinya,
secara ‘alamiah’ memang sudah bersifat demikian, atau karena factor
keturunan. Juga orang yang menentang masyarakat yaitu orang yang anti
social.
1). Mulainya Perilaku Sosial
Pada waktu lahir,
bayi tidak suka bergaul dengan orang lain. Selama kebutuhan fisik mereka
terpenuhi, mereka tidak mempunyai minat terhadap orang lain. Pada vulan
pertama atau kedua sejak bayai dilahirkan, mereka semata-mata bereaksi
terhadap rangsangan dilingkungan mereka, terlepas dari apakah asal
rangsangan itu manusia atau benda, sebagai contoh, mereka tidak dapat
membedakan dengan jelas antara suara manusia dan suara lainnya.
Sosialisasi
dalam bentuk perilaku yang suka bergaul dimulai pada bulan ketiga,
tatkala bayidapat membedakan antaramanusia dan benda dilingkungan mereka
dan mereka bereaksi secara berbeda terhadap keduanya. Pada saat itu
otot mereka cukup kuat dan terkoordinasi sehingga memunginkan untuk
menatap orang atau benda dan mengikuti gerak orang ataubenda tersebut,
dan melihat sasaran itu dengan jelas. Pendengaran mereka juga cukup
berkembang sehingga memungkinkan mereka mengenal suara. Akibat dari
perkembangan ini, ditinjau dari sudut kematangan, mereka telah siap
untuk belajar bermasyarakat.
2). Reaksi Terhadap Orang Deewasa
Reaksi
social pertama bayi adalah terhadap orang dewasa karena, secara normal,
orang dewasa merupakan hubungan social pertama bayi. Pada masa bayi
menginjak usia tiga bulan, mereka memalingkan muka kearah suara maa dan
tersenyum membalas senyuman atau berketuk. Bayi mengeksperesikan
kegembiraan terhadap kehadiran orang lain dengan tersenyum, menyepakkan
kaki, atau melambaikan tangan. Senyuman social, atau senyuman sebagai
reaksi terhadap orang yang dibedakan dari senyuman reflek yang timbul
olehrabaan pada pipi atau bibir bayi, dipandang sebagai awal
perkembangan social.
Pada bulan ketiga, bayi menangis ketika
ditinggalkan sendiriran dan mereka berhenti menangis jika diajak
berbicara atau dialihkan perhatiannya dengan suara gemerincing atau
bunyi alat lainnya. Bayi mengenal ibunya dan orang-orang dekat lainnya
dan menunjukkan rasa takut terhadap orang dewasa yang dikenal dengan
menangis atau memalingkan muka.
Pada bulan keempat, bayi
melakukan penyesuaian pendahuluan kalau akan diangkat, memperlihatkan
perhatian yang selektif terhadap wajah orang, melihat ke arah orang yang
meninggalkannya, tersenyum kepada seseorang yang berbicara dengannya,
memperlihatkan kegembiraan terhadap perhatian pribadi, dan tertawa bila
diajak bermain,
Dari umur lima sampai enam bulan, bayi bereaksi
secara berbeda kepada senyuman dan omelan, dan dapat membedakan antara
suara yang ramah dan suara yang bernada marah. Bayi mmengenal orang yang
sudah akrab dengan tersenyum, daakutan memperlihatkan ekspresi
ketakutan yang jelas terhdap kehadiran orang yang tidak dikenal.
Padausia enam bulan, gerak social mereka semakin agresif. Sebagai
contoh, bayi menarik rambut orang yang membopongnya, mencekau hidung
dan kacamatanya, dan meraba wajah orang tersebut.
Pada umur tujuh
ata Sembilan bulan, bayi berusaha menirukan suara pembicaraan dan juga
menirukan perbuatan dan isyarat yang sederhana. Pada umur 12bulan,
mereka dapat menahan diri untuk melakukan sesuatu sebagai reaksi atas
kata-kata, “jangan-jangan!”. Mereka memperlihatkan ketakutan dan
ketidaksukaan kepada orang yang tidak dikenal dengan menghindar dan
menangis jika ada orang yang tidak dikenal mendekati mereka. Dari umur
15bulan, bayi memperlihatkan minat yang semakin bertambah terhadap orang
dewasa dan keinginan yang kuat untuk berada bersama atau menirukan
mereka. Pada umur dua tahun, merekadapaat bekerja sama dengan orang
dewasa dalam sejumlah aktivitas sederhana, seperti membantu ketika
dimandikan atau dikenakan baju.
Dengan demikian, jelas bahwa
dalam jangka waktu yang relative pendek bayi berubah dari anggota
kelompok yang pasif, yang menerima perhatian lebih banyak dan memberikan
sedikit sebagai balasannya,menjadi anggota ynag aktif yang memprakarsai
hubungan social dan berpartisipasi dalam aktivitas keluarga. Mereka
telah melewati masa tidak suka bergaul dan tahap social dalam pola
perkembangan.
3). Reaksi Terhadap Bayi Lain
Petunjuk
pertama yang nyata bahwa bayi memperhatikan bayi lain terjadi antara
umur empat dan lima bulan ketika mereka tersenyum kepada bayi lain atau
memperlihatkan perhatian pada tangis bayi lain. Hubungan yang ramah
diantara bayi biasanya mulai antara umur enam bulan dan delapan bulan
yang mencakup melihat, dan meraba bayi lain. Usaha yang seringkali
menimbulkan perkelahian. Antara umur Sembilan dan 13 bulan, bayi
menyelidiki bayi lain dengan cara menarik rambut atau bajunya, menirukan
perilaku dan suara bayi lain, dan untuk pertama alinya memperlihatkan
kerja sama dalam penggunaan mainan. Jika sebuah mainandiambil oleh bayi
lain, biasanya bayi menjadi marah, berkelahi, dan menangis.
Reaksi
social terhadap bayi lain dan anakanak berkembang pesatpada umur dua
tahun. Pada umur 12 dan 13 bulan, bayi tersenyum dan tertawa menirukan
bayi lain atau anak-anak. Minat mereka berpindah dari mainan ke bayi
lain atau anak-anak, perkelahian berkurang dan pada waktu bermain mereka
lebih banyak bekerja sama. Pada pertengahan akhir tahun kedua, bayi
memandang mainan sebagai alat untuk membina hubungan social. Mereka
bekerjasama dengan teman bermain, mengubah perilaku untuk menyesuaikan
diri dengan aktivitas ke teman bermain, dan melibatkan diri dalam
permainan yang sederhana dengan anak-anak kecil atau anak-anak yang
lebih tua.