Kamis, 27 Juni 2013

Perkembangan Otak Anak

Banyak pendidik anak usia dini bertanya mengapa mereka perlu belajar tentang perkembangan dari bayi sampai usia enam tahun. Tahap-tahap perkembangan ini sangat penting untuk diketahui supaya dapat memenuhi kebutuhan setiap anak. Tidak semua anak berkelakuan atau berkembang sesuai dengan usia kronologis mereka. Sesungguhnya, banyak anak yang masuk program anak usia dini pada usia tiga atau empat tahun menunjukkan perilaku yang biasa terlihat pada anak yang lebih muda. Penelitian terakhir  pada empat program anak usia dini yang terdiri dari 80 anak, menunjukkan 51% mempunyai perkembangan sosial dan emosi seperti bayi usia 9-12 bulan dan anak usia 12-24 bulan; 27% mempunyai keterampilan motorik kasar seperti anak usia 12-24 bulan; dan 51% mempunyai kemampuan komunikasi di bawah rata-rata anak usia dua tahun. Sebelum analisa ini, orang dewasa dalam program ini mengharapkan anak-anak berfungsi seluruhnya seperti anak tiga dan empat tahun sesuai usia kronologis mereka. Begitu mereka menyadari, bahwa perilaku anak-anak di kelas mereka bukan merupakan perilaku yang nakal tetapi merupakan keterlambatan perkembangan yang memerlukan pijakan orang dewasa dan penataan lingkungan, maka mutu pengalaman program dapat ditingkatkan.
Naskah ini menggambarkan sesuatu yang biasa ditemukan di lembaga pendidikan untuk anak usia empat tahun; sekolah telah menyiapkan kurikulum untuk memenuhi kebutuhan khas anak usia empat tahun. Orang dewasa yang bekerja pada program anak usia dini seringkali tidak siap berhadapan dengan anak yang berperilaku seperti tahapan perkembangan di bawah usianya. Oleh karena itu, tujuan utama dari bab ini adalah membantu orang dewasa untuk memahami perkembangan anak usia dini. Tujuan lain adalah menolong orang dewasa dalam mengamati perkembangan anak yang terlambat (berkebutuhan khusus). Untuk dapat melakukan ini, terdapat dalam bagian selanjutnya, tetapi bukan pemikiran yang kuno, informasi baru tentang perkembangan otak dan jendela awal kesempatan, termasuk mengapa beberapa perkembangan otak anak-anak tertentu berubah. Bagian ini juga membahas teori Kecerdasan Jamak dari Gardner. Kita tidak bermaksud agar orang dewasa menjadi ahli dalam semua bidang ini, tetapi menyadari bahwa informasi ini ada dan selanjutnya mempelajari topik ini. Pada akhirnya, orang dewasa perlu tahu bagaimana melihat dan membandingkan usia perkembangan dan usia kronologis dan dapat menyiapkan pengalaman sesuai dengan tahap perkembangan anak usia dini setiap hari.
Pengamatan Usia Perkembangan dan Usia Kronologis
Salah satu prioritas utama dalam program anak usia dini yang bermutu adalah orang dewasa mengumpulkan data dasar untuk setiap anak dari setiap aspek  perkembangan. Orang dewasa yang tahu perkembangan anak dengan baik dapat melakukan ini melalui pengamatan pada setiap anak. Aspek yang diamati paling sedikit meliputi: perkembangan fisik, sosial, emosi, kognisi, penyesuaian diri, dan komunikasi. Secara umum, perkembangan fisik termasuk keterampilan motorik untuk gerakan motorik kasar dan gerakan motorik halus. Perkembangan sosial emosi termasuk kasih sayang, kedekatan, pengaturan diri, kemampuan bermain dan dapat bergaul dengan orang lain, kesadaran diri, percaya diri, kesejahteraan dan motivasi.
Perkembangan kognisi sulit untuk dipisahkan dari keterampilan bahasa dan motorik; walaupun demikian, cara berpikir anak biasanya dapat diamati melalui kapasitas belajar mereka, apa yang mereka tahu pada saat tertentu dan kemampuan mereka dalam menyesuaikan pada lingkungan yang baru. Perkembangan kognisi dapat diamati saat anak dapat mempertahankan perhatian mereka, mengingat secara rinci, mengikuti arahan sederhana dengan mudah, menata pikiran sendiri, memecahkan masalah dan memproses semua informasi sekitar mereka.
Perilaku penyesuaian diri, sering disebut keterampilan menolong diri sendiri, dan lebih mudah digambarkan dalam hubungannya dengan aspek lain dari perkembangan. Dari sisi fisik, contohnya keterampilan makan, tidur, mandi, berpakaian, latihan ke kamar kecil, merapihkan diri, menjaga suhu tubuh dan menghindari bahaya. Dari sisi sosial-emosi, contohnya kemampuan untuk menanggulangi, konsep diri, menggunakan mainan dengan tepat,  main bersama-sama dan mengkomunikasikan kebutuhan dasar (Benner, 1992).
Perkembangan komunikasi merupakan hubungan yang rumit antara kemampuan hasil ucapan dan bahasa. Komunikasi adalah istilah yang sangat umum untuk menjelaskan hubungan, pertukaran informasi dan gagasan serta dapat dilakukan dengan atau tanpa bahasa. Bahasa adalah penggunaan tanda-tanda atau simbol yang bermakna; bisa ditulis atau diucapkan. Ucapan adalah satu cara mengekspresikan bahasa untuk tujuan komunikasi (Benner, 1992). Selama pengamatan, perlu diperhatikan bahasa ekspresif dan bahasa reseptif. Bahasa reseptif artinya anak dapat mendengar, mengingat dan memahami apa yang dikatakan pada mereka. Bahasa ekspresif dimulai dengan membuat suara dan belajar bagaimana bergantian kemudian berkembang ketika  anak mulai berbicara, berkata apa yang mereka pikirkan dan menggunakan kata-kata untuk memenuhi kebutuhan mereka. Paling tidak pengamatan dari perkembangan anak harus mencakup aspek ini.
Aspek perkembangan lain yang patut mendapat pengamatan orang dewasa adalah penginderaan. Penggabungan sensori adalah proses neurologi dalam pengelolaan informasi yang kita dapatkan dari badan atau lingkungan kita.  Kranowitz (1998) menggambarkan penginderaan sebagai “indera dekat” dan “indera jauh.” Indera jauh adalah yang dekat dengan wajah termasuk penglihatan, rasa (di lidah), penciuman, dan pendengaran. Indera dekat biasa disebut indera tersembunyi oleh karena kita tidak menyadarinya, tidak dapat mengendalikannya, dan tidak bisa mengamati secara langsung. Indera ini sangat dibutuhkan untuk hidup karena mereka mengatur tubuh kita. Mereka termasuk vestibular (gravitasi dan gerakan) dan “proprioception” (sensasi otot dan sendi); ini digambarkan terinci oleh Ayres (1979). Anak usia dini umumnya pada tahap sensorimotor (Piaget, 1962); mereka menjelajahi dan mengemudikan dunia mereka dengan menggunakan semua indera ini baik yang dekat maupun yang jauh. Bila indera dekat berjalan secara lancar dan tepat, anak dapat memperhatikan informasi yang datang dari indera jauh (suara, penglihatan, penciuman, dll). Orang dewasa dapat mengamati anak yang punya kehalusan perasaan dalam aspek-aspek tertentu. Sebagai contoh, beberapa anak, memegang telinga dengan tangan mereka saat truk yang bersuara keras lewat ketika mereka bermain di lapangan, sementara yang lain dapat mengabaikan kebisingan dan bahkan dapat berkonsentrasi di tengah-tengah suara keras. Beberapa anak senang dipeluk sementara yang lain menolak disentuh atau bereaksi ketika mereka dipeluk terlalu keras. Label di baju atau jahitan di kaos kaki sangat mengganggu beberapa anak. Perbedaan ini bila cukup kuat dapat mengganggu kemampuan anak untuk memperhatikan dan berperan serta secara penuh dalam pengalaman pendidikannya.
Kunci untuk membedakan anak yang mempunyai kebutuhan khusus dengan anak yang hanya sensitif adalah memahami tahap-tahap perkembangan anak. Ini membutuhkan pengalaman langsung dengan anak, intuisi, pengamatan terus menerus, dokumentasi yang cermat dan kerjasama diantara guru-guru, para ahli dan orang tua.
Perkembangan Otak dan Awal Jendela Kesempatan
Banyak pendidik anak usia dini perlu memahami tentang tahun-tahun awal kehidupan yaitu selama masa bayi bahkan sebelum perkembangan otak anak berubah. Akhir-akhir ini, ada ledakan yang sesungguhnya dari penelitian perkembangan otak dan informasi ilmiah sehubungan dengan “sifat-sifat kritis” yang dibawa pada tiga tahun pertama kehidupan (Gopnik, Meltzoff, & Kuhl, 1999; Karr-Morse, 1997; Newsweek, 1997; Patel, 2002; Shonkoff & Philips, 2000; The Florida Starting Points Initiative, 1997).
Bayi lahir dengan berjuta-juta neuron yang memberikan kemungkinan untuk membuat hubungan yang banyak di dalam otak yang memimpin pada penafsiran dunianya nanti. Neuron-neuron diciptakan saat janin hanya berukuran 8 ons; sel-sel neuron bermigrasi keluar dan menciptakan lapisan-lapisan sel yang disusun dan diorganisasikan kembali ke dalam lajur atau kelompok disaat janin di kehamilan tua dan awal kehidupan bayi baru lahir. Pada kehamilan usia 24-26 minggu, sel-sel ini menyusun sendiri dalam cara yang akan menjadi berguna pada perkembangan sensori bayi. Penyusunan sel-sel ini berlangsung selama dua sampai tiga tahun. Sistem sensori penciuman, pendengaran dan rasa berkembang sejak dalam rahim dan perabaan/vestibular dirangsang sesudah lahir (Graven, 2000, Tampa Early Intervention Program, Case Studi Lectures).
Sel-sel sistem penglihatan menciptakan lajur yang lebih jauh akan dirangsang pada saat lahir, ketika bayi baru lahir menerima cahaya melalui matanya untuk pertama kali. Namun, jika bayi lahir lebih awal, sebagai contoh, sebelum kehamilan 31 minggu, proses penglihatan ini akan terganggu. Hasil dari gangguan proses ini dapat bervariasi (Graven, 2000, Tampa Early Intervention Program, Case Studi Lectures). Ada juga periode yang kritis saat empat sampai enam bulan sesudah kelahiran. Proses awal dari perkembangan penglihatan ini sangat penting bagi perkembangan bayi. Sebagai contoh, penglihatan terkait dengan pendengaran; itu memperkuat pembelajaran dengan menempatkan rangsangan penglihatan dengan suara. Perkembangan penglihatan juga berhubungan dengan perabaan; bayi menggunakan perabaan dan penglihatan bersama-sama untuk menjelajah dunia mereka. Akhirnya, perkembangan penglihatan terikat dalam keterampilan motorik dan bayi yang tidak dapat melihat mempunyai lebih banyak kesulitan membangun tonus otot. Penglihatan membangkitkan gerakan. Orang dewasa dalam lingkungan yang menghubungkan makna pada mainan bayi sering merangsang gerakan.
Walaupun banyak neuron-neuron yang diciptakan melebihi dari yang bayi butuhkan, tetapi hanya neuron-neuron yang dirangsang saja yang memberikan kesempatan belajar di kemudian hari. Neuron-neuron yang tidak dirangsang akan dilenyapkan melalui proses alamiah dan proses tersebut dikenal sebagai “pemangkasan neuron.” Pemangkasan sambungan-sambungan yang tidak digunakan dan diperlukan ini memungkinkan jalan yang sudah dirangsang untuk tumbuh dan membuat hubungan yang lebih rumit lagi (Robert R. McCormick Tribune Foundation, Ten Things Every Child Needs Videotape). Dalam kata lain, neuron-neuron yang tidak dirangsang selama periode waktu kritis tertentu akan hilang atau diubah. Sehingga, perlu sekali pengasuh memahami jendela kesempatan yang ada secara alamiah agar dapat merangsang dan mendukung hubungan otak yang berguna untuk pembelajaran sepanjang hayat.
Seiring dengan meningkatnya kesadaran pengetahuan masyarakat tentang awal perkembangan otak manusia, ketertarikan telah dibangkitkan tentang berbagai hal dalam kehidupan anak usia dini. Sehingga disebut sebagai jendela kesempatan atau periode kritis untuk sel-sel otak tumbuh, bermigrasi, bergabung, menyusun sendiri, menciptakan jalan dan menjadi “perkawatan” dalam otak membuat sebuah perbedaan bagaimana anak menjadi siap untuk menerima informasi (National Research Council Institute of Medicine, 2000). Para ahli syaraf sudah memberikan jaminan tentang kemampuan belajar anak jauh sebelum mereka masuk sekolah.
Bukti perkembangan otak ini sesuai dengan apa yang telah kita rasakan secara intuisi dan telah didukung oleh teori yang berkaitan dengan waktu kritis dari kegiatan dan praktek perawatan dasar. Apa yang kita lakukan pada awal kehidupan anak membuat suatu perbedaan dalam kehidupan anak usia dini. Oleh karena itu, kita perlu membacakan buku pada bayi, memegang dan membuai mereka, mengangkat mereka saat mereka menangis, memberi perhatian pada mereka, dan menanggapi mereka dengan cepat. Kita perlu berhubungan dengan anak usia satu dan dua tahun, memberi nama dalam dunia mereka, memberikan contoh-contoh bahasa positif pada mereka, memberikan banyak mainan yang sesuai untuk bermain, dan belajar bagaimana mereka tumbuh dan berkembang. Kita perlu melakukan banyak pekerjaan di awal dengan anak jauh sebelum mereka mendapatkan program anak usia dini dan masuk dalam penataan sekolah formal. Kapan dan bagaimana kita berhubungan dengan bayi dan anak usia satu atau dua tahun menentukan kerangka dasar untuk keberhasilan di sekolah nanti.
Bayi tidak boleh dianggap sebagai penerima rangsangan yang pasif. Tidak ada lagi “terkaan” tentang bagaimana otak itu tumbuh, berkembang, dan berfungsi. Sejumlah teknik ilmu-ilmu syaraf baru dapat dipakai dan memberi peluang jalan ilmuwan untuk mempelajari dan mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang perkembangan otak bayi. Sebagai contoh, PET (positron-emission tomography) scan memberikan para ilmuwan kemampuan untuk mengukur tingkat dari kegiatan sinaptik dalam otak; kejadian-kejadian yang paling dramatik memang berlangsung selama masa bayi sampai tiga tahun. Pada usia tiga bulan, otak bayi ditekankan pada bagian belakang otak (lobus oksipital) dimana fungsi penglihatan berada. Selama usia delapan bulan kehidupan, seluruh otak menunjukkan bukti dari kegiatan sinaptik; namun bagian depan otak (lobus prefrontal) juga secara jelas aktif dimana perencanaan penyelesaian masalah dan pengaturan emosi berada (The Florida Starting Points Initiative, 1997). Berdasarkan kerja fungsi perkembangan otak dari Dr. H.T. Chugani di Rumah Sakit Anak di Michigan, Wayne State University, PET Scan telah menunjukkan gambaran awal dari perkembangan otak anak usia dini.
Teknik, penelitian dan informasi lanjutan dari ilmu perkembangan syaraf penting bagi pendidik, pengasuh, dan keluarga. Dengan luasnya informasi tersebut, kita tentunya tidak perlu menjadi ahli. Tetapi, penting bagi orang dewasa yang berada dalam proses membesarkan anak usia dini, memperhatikan masing-masing bagian otak dan fungsi-fungsi yang terkait, seperti dalam tabel berikut ini. Daerah otak ini secara sederhana didefinisikan oleh “National Research Council’s Institute of Medicine” dalam buku yang berjudul “From Neurons to Neighborhoods (2000) sebagai otak depan (cerebral hemispheres), otak tengah (jalan dari dan ke otak depan) dan otak belakang (batang otak dan serebelum). Kita juga perlu mengerti bahwa bagian-bagian otak itu saling berhubungan dan berkerjasama satu sama lain sepanjang waktu dalam suatu cara yang sistematik (dari depan ke belakang dan dari sisi ke sisi); mereka mengontrol bagaimana kita berfungsi sehari-hari (Florida Starting Points, 1997).
Korteks Serebral

Tidak ada komentar:

Posting Komentar